Tanah Berpijak Untuk Kaum Minoritas

010720141162   Judul : Beri Aku Dunia… Banci juga Manusia Pengarang : Andy Stevenio Penerbit : Pustaka Anggrek Tahun Terbit : 2007

Menjadi kaum minoritas yang tidak diinginkan masyarakat tentu penuh dengan penderitaan. Penghinaan, tatapan sinis orang-orang, celaan, bahkan tindak pelecehan telah menjadi makanan sehari-hari. Tidak ada seorang pun, tak terkecuali keluarga yang berkeinginan untuk menolong, paling tidak, tidak ikut-ikutan mencela mereka. Mereka adalah kaum yang tidak diterima dan selamanya tidak diakui sebagai bagian dari masyarakat. Atau bahkan, mereka sudah tidak dianggap sebagai manusia, karena hak-hak mereka sebagai manusia sudah dirampas secara paksa dengan perlakuan-perlakuan yang mereka terima.

Mereka adalah orang -orang yang terlahir sebagai seorang lelaki namun memiliki jiwa lembut seorang perempuan. Mereka adalah seorang perempuan yang terperangkap dalam raga laki-laki. Mereka tidak meminta untuk dilahirkan seperti ini, namun takdirlah yang menentukan. Mereka juga tidak meminta semua orang untuk memberi label berbeda pada mereka. Label “banci”, “bencong”, “jadi-jadian” bukanlah nama yang indah dan bisa dibanggakan. Mereka hanya meminta, agar semua orang dapat membiarkan mereka hidup selayaknya, tanpa perlakuan diskriminatif. Tanpa membeda-bedakan normal atau tidak normal, lelaki atau setengah lelaki. Mereka hanya ingin bernapas lega di tanah yang dipijaknya, menikmati udara kehidupan yang telah lama tidak mereka dapatkan.

Hal inilah yang diutarakan Ari Wicaksono, seorang lelaki namun memiliki jiwa perempuan. Segala bentuk diskriminasi yang ia terima di bangku sekolah menegah atas dan perlakuan keluarganya, membuatnya harus menelan pahit-pahit kenyataan. Tidak punya seorangpun untuk berpijak, Ari masih memiliki Tuhan yang selalu ada dan berpihak padanya. Novel karya Andy Stevanio ini ditulis apik dalam sudut pandang orang ketiga serba tahu, dimana menjelaskan dengan detail perasaan Ari terhadap kondisi dirinya, situasi keluarga, pada Kenny-mantan cinta pertama Ari, dan terlebih pada sesamanya.

Ari muak dengan segala bentuk perlakuan masyarakat terhadapnya dan teman-temannya, yang selalu mengidentikan seorang “banci” dengan hal-hal vulgar dan kotor. Hingga terbentuk opini, bahwa menjadi seseorang seperti Ari adalah sebuah dosa besar dan dilaknat. Namun, Ari juga kesal terhadap perilaku kebanyakan teman-temannya yang berkelakuan semena-mena sehingga masyarakat lebih intens menghina mereka. “Banci” selalu identik dengan keluar malam dengan pakaian minim, berganti-ganti pasangan (homosexual yang tidak terkendali), dan hal lainnya, menurut Ari, hal akan menambah keinginan orang mayoritas untuk memojokkan mereka.

Namun apa daya, Ari hanya seorang diri dan teman bersandarnya hanyalah Tuhan. Banyak hal yang patut diteladani dari sosok Ari Wicaksono, diantaranya kepatuhannya kepada agamanya. Ari tidak membenci telah diberi jiwa dan raga yang berbeda karena itu berarti membenci ciptaan-Nya. Dan jalan hidup yang dilalui Ari adalah, hidup sebaik-baiknya tanpa merugikan orang lain, mencari rezeki yang halal dan tentu saja tetap menjadi dirinya sendiri.

Suatu keajaiban dengan pola pemikiran itulah, Ari akhirnya dapat menemukan setitik tanah yang dapat ia pijak. Ari mendapatkan dunia yang ia dapatkan walaupun tidak lebih dari sejengkal. Setidaknya, dalam sejengkal itu, Ari menemukan kebahagiannya.

** Aku beli novel jadul ini di bazar buku diadakan, dengan harga obral 5000 rupiah. Awalnya iseng, ternyata novel ini bagus untuk dibaca. Karena memberi kita pandangan baru tentang “banci”. Dan untuk orang-orang disana yang masih memperlakukan mereka dengan semena-mena, ingat, bahwa mereka sendiri tidak mengingginkan untuk menjadi seperti itu. Mereka hanya hidup sesuai dengan apa yang jiwa mereka rasakan. Menurutku, mereka jauh lebih baik ketimbang orang-orang munafik di luar sana, yang berusaha tampil prima sekedar untuk pencitraan dan mengubur dalam-dalam sosok asli mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s