Kids are INNOCENT ?

Confessions (2010)

Confessions

Director    : Tetsuya Nakashima
Writers      : Kanae Minato (based novel by), Tetsuya Nakashima (screenplay)
Stars           : Takako Matsui, Yukito Nishii, Ai Hashimoto

haha

Yuko Moriguchi disaat hari terakhirnya mengajar di kelasnya mengatakan sebuah pengakuan tentang misteri meninggalnya anak perempuan semata wayangnya, Manami. Polisi menyimpulkan kematian Manami merupakan sebuah kecelakaan, namun dengan bukti yang Moriguchi punya, ia percaya bahwa anaknya di bunuh. Dan pembunuh Manami tak lain adalah murid di kelasnya. Meski begitu, Moriguchi tidak melaporkan perbuatan muridnya ke pihak berwajib karena dianggapnya hal tersebut akan sia-sia. Karena, anak tersebut akan dibebaskan dari hukuman dengan hukum yang berlaku di Jepang, yang mengatakan anak dibawah usia 13 tahun terbebas dari hukuman dan sebagai gantinya  harus menjalani rehabilitasi.

Shuuya Watanabe, murid kelas bu Yuko Moriguchi yang sangat cerdas. Selalu merasa kesepian karena memiliki kenangan buruk dan kurang perhatian dari ibunya hingga membuatnya terobsesi untuk mendapatkan perhatian dari dunia..dengan cara apapun.

Confussion menjadi salah satu film yang banyak memenangkan banyak penghargaan baik di jepang maupun di luar jepang. Film ini menang sebagai best asian film di 30th hongkong film awards, best picture dalam 34th japan academy price. Tetsuya Nakashima selaku sutradara juga menang sebagai best director dalam penghargaan tersebut. Film confussions dilihat dari segi plot cerita, pengambilan gambar, dan akting para aktor tidak heran bila film ini menang dalam banyak penghargaan.

even i’m not a professional movie-maker (well, I’hve never done one, i hope soon). Secara personal, aku bisa kasih 11/10 stars hehe. despite of I enjoyed the film really well, dari segi kemapuan akting pemain, pengambilan sudut gambar, dan ceritanya sendiri sangat memuaskan. Dan lagi, karena film ini bergenre yang bisa dibilang “aku” banget (you’ve known, I’m pyscho freak) 80% dari film bergenre sama pasti sangat memuaskan bagiku.

Disamping itu, dari film ini kita bisa tahu bagaimana kesedihan yang amat mendalam dapat mengubah pribadi seseorang seperti pada kasus Bu Yuko Moriguchi. bagaimana ia yang dulunya berprofesi sebagai wali kelas, seseorang yang ramah dan bertanggung jawab dalam memperhatikan murid muridnya, menjadi seorang cold-hearted  demi membalas kematian anaknya. Film ini juga menjadi cerminan untuk kita yang pendendam (walau mungkin belum sampai tahap ingin membunuh orang), jujur saja, kita pasti pernah benci dengan seseorang karena berbagai faktor. Misal, karena orang itu menyebalkan ataupun orang tersebut telah merampas apa yang kita miliki. Dari kebencian itu, kita harus bisa mengambil sisi positifnya. Dengan adanya mereka (orang-orang yang kita benci), kita bisa belajar lebih sabar, dan lebih mengikhlaskan apa yang terlah terjadi. Ketimbang merencanakan hal-hal licik untuk balas dendam.

Film ini menekankan pada kelakuan anak di bawah usia 13 tahun yang mendapat perlindungan dari pemerintah. Kelakuan apapun anak tersebut, baik merusak, mencuri, bahkan membunuh, mereka tidak akan di beri sanksi. Dan orang dewasa yang bersangkutanlah yang akan menanggung akibatnya. Contoh, ada sebuah kasus dimana seorang anak membakar habis rumahnya karena bermain api, anak tersebut tidak akan dijatuhi hukuman, melainkan orang tuanya lah yang dihukum, karena tidak awas dan mungkin secara tidak langsung tidak mengajari anak tersebut tentang bahaya bermain api. Peraturan ini ada benarnya juga, tapi sebaiknya anak yang bersangkutan juga ikut di beri hukuman. Lebih kepada memberikan efek jera dan pelajaran bahwa apa yang telah ia perbuat itu salah dan merugikan dirinya. Di Indonesia sendiri, juga diberlakukan peraturan yang sama, namun dengan batas umur yang di bawah 12 tahun. Di bawah 12 tahun, hukuman anak jatuh kepada orang tuanya.

Menjadi palajaran buat orang tau juga, dalam mendidik anak harus terus menanamkan nilai-nilai kebaikan. Mengajarkan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sesuai dengan norma norma yang ada di lingkungan. Sekedar berbagai cerita, meskipun aku hobi banget nonton film “sadis” dan pastinya banyak unsur-unsur yang sangat tidak baik dan tidak dianjurkan untuk dilakukan, untungnya aku masih punya “rem” untuk tidak terjerumus. Karena aku tahu itu salah, tidak baik, tidak patut dicontoh, walaupun aku suka. Rancu ya? memang. Semua pemikiran itu, tak lepas dari bimbingan orang tua. Jadi, memang benar, kita itu tanggung jawab mereka.

jiji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s